Filosofi Rumah Adat NTT

Tidak cuma wilayah di Wae Rebo yang mempunyai rumah adat, wilayah lainnya di NTT ikut mempunyai rumah adat berbeda yang tidak kalah uniknya. Rumah adat ini memmiliki sebutan Sao Ria Tenda Bewa Moni Koanara. Kekhasan rumah ini terdapat pada bahan yang atapnya terbuat dari ilalang dengan bentuk kerucut serta sampai menyentuh tanah dan memiliki arsitektur rumah klasik pada bangunan tersebut.

Rumah adat NTT yang satu ini pula mempunyai tiga model yang tidak sama. Pertama, Tenda Bewa Moni Koanara atau rumah baku untuk menaruh tulang-belulang leluhur, tempat tinggal, serta lumbung padi. Tempat tinggal pada rumah adat ini diikuti karenanya ada kepala kerbau di depannya.

Filosofi Rumah Klasik Adat NTT

rumah klasik

Rumah adat NTT sama seperti dengan rumah adat lainnya yang mempunyai nilai filosofis. Lebih dari sebatas rumah untuk hunian, rumah adat ikut mempunyai arti yang begitu dalam. Rumah adat ini adalah tempat untuk hidup serta hubungan antar komunitas penduduk ditempat tersebut (Lio).

Sebab pada intinya hidup terkait dengan keselarasan pada manusia dengan manusia, serta manusia dengan alam. Rumah adat NTT ikut mempunyai arti lainnya yaitu untuk tempat “berkumpulnya” nilai religi, etika, estetika, dan budaya. Detail pada rumah adat ini menggambarkan perilaku bijaksana dari suku Lio dan kebudayaan setempat dengan mengedepankan konsep rumah klasik di bangunan tersebut.

Berdasar pada beberapa jenis rumah adat NTT, Jhon Mansford Prior memberi deskripsi pandangan mistiknya sama dengan kenyataannya.

  1. Sepasang batu yang tambah tinggi melambangkan pria menjadi penghubung pada langit dengan bumi. Sementara yang lebih rendah melambangkan wanita.
  2. Atap yang terbuat dari alang-alang dari atas ke bawah dan tiada jendela menhubungkan tanah serta liru dan membagi dunia luar dan dunia dalam,dunia terang serta dunia gelap.
  3. Dua belas tiang dengan tinggi kurang lebih 1 meter. Tiang-tiang ini berdiri pada tanah yang diratakan.
  4. Ruangan untuk tinggal ada diatas tiang besar. Balok-balok kayu tidak saling bersambungan dengan tiang dasar atau mungkin dengan balok atap. Sisi bawahnya ada tempat untuk babi serta ayam.
  5. Ruangan langit berada di bawah loteng. Diatas ruang ini ada dua tiang panjang tempat diletakkannya bubungan atas. Bubungan ini jadi lambang sumber kehidupan yang mengalir dari generasi satu ke generasi setelah itu.
  6. Tiga ruang vertikal, terdiri atas ruang bumi, ruang langit, serta ruang manusia. Ruangan-ruangan ini berdiri dengan sendiri serta dibuat terbuka dengan arti mereka “sadar” ada yang berbeda.
  7. Tiga ruang horizontal, yang terdiri atas tempat untuk istirahat bale-bale), ruangan tengah (maga-lo’o), serta one’ atau ruangan sangat belakang dan gelap. fentlinux.com